Twitter Absurdism

January 5, 2012

Pagi ini tiba-tiba gue dikagetkan oleh teman lama gue,  Emma S. R. Ginting, yang me-mention gue di Twitter. Dulu waktu gue SMA, kita lumayan sering chatting via MSN Messenger. Dan setelah dipikir lagi, gue ga inget kenapa gue dan dia bisa kenal. Kira-kira begini isi timeline kami (tampilan disesuaikan supaya lebih enak dibaca) :

@emmasrginting: “hallo kavin ._. Gue kira lo udah dimakan macan di kebon binatang depan itb. Tau2nya eksis di twitter”

@kavinyudhitia: “hahah, engga kok akhir2 ini gue malah bersahabat sama kuda2 lokal! apa kabar lo, kita terakhir chat kayaknya 2793 tahun lalu?”

@emmasrginting: “wah mainnya sama yang lokal ternyata. Anjir, gue kira kita terakhir chat di kehidupan sebelumnya vin. Kabar gue? Semarak vin~”

@kavinyudhitia: “Tapi…. Semarak itu nama kota di jawa tengah..”

@emmasrginting: “ah masa? Berarti guru ips gue salah ngajarin dong selama ini. Ternyata mereka penipu ulung!”

@kavinyudhitia: “namanya juga guru IPS.. mungkin mereka ga nipu lo tapi mereka sebenarnya memang tidak tau! #parah”

@emmasrginting: “wah kavin sudah besar ya sekarang ._.”

@kavinyudhitia: “lumayan… 25 cm an lah kalo lagi kondisi normal..”

@emmasrginting: “YAH! gw kira lebih dari itu malahan. Kecewa gue kecewaa”

@kavinyudhitia: “-__- wanita memang susah puas ya..”

@emmasrginting: “makanya vin, berjuang lebih keras keras dan keras, gue doain lo bakal memuaskan semua pihak, baik yg normal atau gak normal”

@kavinyudhitia: “oooh tentu! kalo udah keras bisa nambah beberapa senti sih! tadi kan dalam keadaan normal!”

@emmasrginting: “tadi kan lo bilang wanita susah puas, coba laki2 vin. Siapa tau…”

Setelah itu ga gue bales lagi. Gue takut dia bener-bener bisa memengaruhi gue pindah ke jalan dosa.

Tambah-Tambah

January 5, 2012

Sudah sangat lama sekali banget semenjak post terakhir gue di blog ini. Mungkin beberapa diantara kalian mengira gue bernasib sama seperti Kim Jong Il (sang ‘superman’ yang mengabarkan dirinya ga butuh pipis-boker) yang meninggal beberapa waktu lalu. Tenang, gue masih hidup dan masih butuh melakukan pipis-boker setiap hari untuk bertahan hidup (tentu tidak lupa cebok).

Salah satu alasan kenapa blog gue belum sempat diupdate adalah karena sibuk kuliah. Secara sederhana pembelaan gue dapat dirangkum dalam kalimat berikut: “PLEASE, WAKTU TIDUR GUE AJA KURANG UNTUK DIPAKE BELAJAR, MATI MUDA NIH KULIAH DI ENGINEERING!” Gue ga main video game apapun, gue ga punya tivi, gue ga addicted sama film seri, gue ga clubbing, dan gue ga melakukan hal-hal ‘menyenangkan’ yang  biasa dilakukan mahasiswa; tapi gue masih kurang tidur karena belajar (mungkin karena gue imbesil, atau mungkin kadang-kadang gue masih nyari tante-tante yang mau bayar gue sebagai pria penghibur). Nah sekarang saatnya gue mau pamer bahwa berkat itu gue dapet beberapa penghargaan:

Terus waktu liburan, gue kerja sambilan melatih peserta olimpiade komputer seperti yang sudah gue jelaskan pada post gue sebelumnya (artinya tetap ga sempet nulis blog). Beda dengan tahun sebelumnya, tahun ini gue ngajar di Padang Panjang (sama seperti Padang, namun lebih Panjang) dan Salatiga (kota yang selalu dapat nilai 70 kalau ada 10 soal).  Salah satu kegiatan gue yang paling penting saat mengajar terlihat di foto ini:

Pada liburan kali ini, gue bertemu teman-teman lama gue yaitu Yan Armand Tosin, Maritzka Tedja, Emily May Gunawan, dan Shelvy Hermanto. Gue belum pernah memperkenalkan Shelvy dan Emily di blog ini. Gue kenal Emily karena dulu pernah manggung di birthday party-nya, sedangkan gue kenal Shelvy dari Maritzka waktu SMA. Pada pertemuan hari itu, kami banyak membahas tentang panti pijat plus-plus, etika disana, serta merencanakan kapan kami bisa nyobain kesana. (engga lah, ini bukan blog mesum! Tapi kami memang banyak membicarakan pijat plus-plus di hari itu). Emily menceritakan kekhawatirannya pada pacarnya yang berkuliah di salah satu universitas swasta katolik di Bandung, ia takut pacarnya main ke panti pijat plus-plus karena kabarnya banyak mahasiswa sana hobi main ke tempat mesum semacam itu.

Gue: “Ya jelas lah, universitas swasta gitu. Wajar aja pergaulan super bebas gitu! Sedangkan gue? Tidur aja kurang, mana ada waktu untuk gitu-gituan! Oke, tapi ada juga sih satu temen gue yang suka main kesana.” (temen yang gue maksud itu berinisial AL, ia kuliah di ITB seangkatan sama gue, mukanya mirip figuran yang di film-film Cina kolosal [biasa kalo lagi perang ada di barisan depan, kena panah duluan,  teriak "UUUAAHHGGGHHHTUNGGDESEMWARINGINN!!!", kemudian mati dengan mata terbuka])

Maritzka: “Tempat pijat begitu tuh rasanya kayak narkoba, sekali coba lo bakal susah berhenti.  Ada sensasi tersendiri yang bikin nagih.” (<– orang ini berbicara seperti pakar bukan karena dia berpengalaman sebagai tukang pijat, tapi karena ia mahasiswa jurusan psikologi)

Tosin: “Ga semua universitas swasta gitu juga kali, Vin! Tapi yang gue tau tuh Moestopo, bahkan sering diplesetin jadi Moestopo Bersenggama!” (aslinya Moestopo Beragama)

Gue: “Ah T*i! nyokap gue lulusan Moestopo!” (ya, gue serius)

Di pertemuan ini juga Yan menceritakan bahwa dia pernah digodain tante-tante dan diajak ke rumahnya. Gue juga pengen ikutan cerita kalo gue pernah digangguin kakak kelas gue yang homo, tapi setelah gue pikir-pikir lagi kayaknya kurang keren. Satu hal yang bikin gue rada kaget adalah ketika Maritzka nanya ke gue “Sebenernya di tempat plus-plus gitu ngapain sih, Vin?” Ada dua hal yang muncul dalam benak gue:

  • Gue terlihat sebrengsek itu sampai Maritzka menganggap gue adalah seorang expert dalam bidang per-panti-pijat-plus-plus-an
  • Gue merasa berdosa kalo jawaban gue menyemangati Maritzka untuk mendaftar menjadi pekerja di pijat plus-plus

Memang sih dulu gue, Eka Prima, dan satu teman gue lagi yang bernama Ezra Priya pernah punya angan-angan buka usaha panti pijat plus-plus keliling di sekitar kilang minyak (oil refinery). Pekerja di kilang minyak lepas pantai biasanya banyak duit karena gaji mereka besar dan di lepas pantai ga ada tempat hiburan. Makanya pasti laku kalo menyediakan jasa ‘hiburan’ di sekitar sana. Coba bayangin kalo ada tempat pijat keliling di perahu yang muterin kilang minyak gitu, setiap istirahat siang tempat pijat itu pasti penuh! 10 tahun lagi kami bertiga berencana bertemu untuk membahas bisnis ini (dan 50 tahun lagi keliatannya kami bertiga bertemu di neraka).

Okelah, untuk menjawab pertanyaan Maritzka, gue jujur agak bingung. Apakah gue mesti menjelaskan dengan eksplisit seperti “Jadi ***** pelanggannya dimainin gitu sama mbak tukang pijatnya, terus mereka************ …”. Bisa-bisa blog gue isinya sensor semua. Alhasil gue hanya menceritakan apa yang gue baca di  internet seperti brazzer karena gue sendiri tidak pernah ke panti pijat plus-plus. Eh, maksud gue situsnya tuh kaskus deng, brazzer itu situs porno.

Di menit-menit terakhir pertemuan kami, Shelvy juga mengingatkan gue bahwa sebaiknya gue ngupdate blog gue. Setelah gue pikir-pikir, dia bener juga: umur blog gue hampir lima tahun tapi post-nya cuma 14. Ga heran gue sering digosipin udah meninggal kayak istrinya Syaiful Jamil!

Tunggu, apa istrinya emang benar udah meninggal? gue ga terlalu peduli juga.

Konklusinya: Pertemuan hari itu mengingatkan kami bahwa tempat yang tabu bagi beberapa orang, mungkin saja adalah tempat sakral bagi teman terdekat mereka!

Sumbawa Rock City part 2

November 9, 2010

ga ada cerita menarik sih, kejadiannya udah lama juga. Gue cuman pengen pamer kalo gue udah 2 kali ngajar di Sumbawa.

Kavin Yudhitia

gue emang hobi kayang

Sabhrina Gita Aninta.

temen gue, Sabhrina Gita Aninta. Selain hobi mengajar untuk OSN biologi Ia juga hobi kayang

Sharon Loh.

Kalo yang ini namanya Sharon Loh, dia jadi hobi kayang setelah melihat foto gue kayang. Sebenernya ini bukan di pantai sumbawa, tapi karena gue melihat bahwa foto ini cukup relevan, jadi gue tambahkan disini. Lihat mas-mas di bagian kiri atas? ga usah dipedulikan karena ia hanya mas-mas biasa yang ga sengaja kefoto. Sewaktu muda dahulu, Sharon mengikuti olimpiade sains nasional di bidang komputer. Sekarang beliau sudah tua.

ngomongin masalah mas-mas, berikut ini akan gue sertakan foto mas Timotius Nugroho, tapi perlu diingat bahwa  ia beda dengan mas-mas di foto sebelumnya karena mas Timotius adalah mas-mas luar biasa. (luar biasa jahanam [ga juga sih, tapi ini yang pertama kali terbersit di pikiran gw]). Mas Timotius juga alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia lho.

Timotius Nugrogo

—–

Oke jangan senang dulu, koleksi foto kayang gue belom selesai. Foto berikutnya akan spesial karena orang di foto berikutnya adalah mantan-murid gue (tanda ‘-’ diantara ‘mantan’ dan ‘murid’ menyatakan bahwa ia pernah menjadi murid gue, bukan bekas pacar dari salah seorang murid gue. buat apa juga gue masang foto mantan murid-gue? [perhatikan bahwa di kalimat ke-2 {perhatikan, gue menggunakan kata "ke-2", bukan "kedua". Itu artinya yang gue maksud adalah kalimat nomor 2 semenjak dimulainya tanda kurung buka <gue mesti berhenti menggunakan tanda kurung di dalam tanda kurung karena ini udah terlalu dalem>} gw menggunakan tanda '-' di tempat yang berbeda] ). Tapi sayangnya mantan-murid gue ini tidak lolos menjadi Tim Olimpiade Komputer Indonesia. Nama anak ini adalah Mulyani Pratiwi.

Gw pengen banget bilang “Maafkan aku nak, gurumu ini yang yang salah :’(. Gurumu lho nak, bukan saya!” tapi gw belom sempet dan gue rasa itu kurang senonoh. Walaupun begitu, tapi kemampuan kayangnya adalah yang paling hebat diantara foto-foto diatas. Kalau saja ada seleksi Tim Olimpiade Kayang Indonesia, gue rasa ia bisa mendapat medali emas.

Mulyani Pratiwi

Maling

June 6, 2010

TIDAK terasa sudah 2 tahun sejak gue ngekos di bandung. Sudah banyak orang baru di kos gue dan sudah banyak juga orang lama yang pindah dari kos gue. Dalam kehidupan ngekos, masalah baju yang tertukar seringkali terjadi karena keteledoran bibi kos yang tidak memasukkan pakaian ke keranjang yang tepat. Salah satu baju gue pun sempat lama hilang. Bukannya gue bawel tentang baju, masalahnya baju ini adalah baju kenangan band gue waktu SMA dulu. Gue punya 4 baju ini, semuanya bertuliskan “I Love My Girlfriend’s Pussy” dan ada gambar kucingnya, warnanya beda-beda: putih, biru, hitam, kuning. Yang hilang adalah yang berwarna putih dan hitam. (Oke, tulisan di baju gue ga senista itu. Sebenernya tulisannya adalah “Move Small Plastic and Trash”. Walaupun itu terlihat nista juga, setidaknya masih lebih mendingan dibanding yang pertama. Ingatlah selalu pada peribahasa “Karena nista setitik, rusak susu sebelanga”)

Gue hampir merelakan kepergian baju itu sampai pada suatu sore, ketika gue dan Eka Prima sedang mau makan di warung ayam bakar deket kos gue, kami melihat ada seseorang yang mengenakan kaos bertuliskan “Move Small Plastic and Trash” berwarna putih. Hati gue berdegup kencang saat melihatnya (engga, gue ga jatuh cinta sama cecurut itu), lalu gue memastikan lagi apa tulisannya benar, siapa tau gue salah lihat dan ternyata tulisannya “I Love My Girlfriend’s Pussy” dan ada gambar kucingnya. Gue tanya si Eka Prima dan ia memastikan bahwa gue benar. (kalo seandainya si Eka Prima bilang bahwa tulisan di baju orang itu adalah “I Love My Girlfriend’s Pussy” dengan gambar kucing, gue dihadapkan pada dua pilihan: 1) pergi ke singapura untuk operasi katarak, 2) membawa si Eka Prima pergi ke singapura dan menyuruhnya operasi katarak). Yang lebih jackpot-nya lagi, waktu itu gue juga sedang mengenakan baju “Move Small Plastic and Trash”, tapi warnanya kuning.

“Heh kutu air, balikin kaos gue! Pake pura-pura ga liat lagi!”, itu kalimat pertama yang muncul dalam hati gue, tentu saja gue ga berani mengucapkan kalimat tersebut. Gimana kalo seandainya dia udah nyiapin pasukan abang-abang yang siap menyerang siapapun yang mengucapkan kalimat begitu? Jadinya gue omongin baik-baik aja:

gue: “Mas, satu kos sama saya kan ya?” (dengan muka diramah-ramahin)

dia: “Emmh iya..” (dengan muka dimalu-maluin, mungkin karena melihat kesamaan bajunya dengan baju gue)

gue: “Kayaknya si bibi salah masukin baju saya ke tempat mas, yang mas pake tuh baju saya”

//gue tetesin matanya pake Kalpanax (anti kadas, kurap, dan kutu air) kalo seandainya dia mengelak dengan bilang bahwa ia membeli baju itu di tempat lain. Baju yang dia pakai itu cuman ada LIMA BUAH di dunia ini dan temen gue (Andre Yapto) sendiri yang membuat dan mencetak. Ga mungkin dia bisa beli di tempat lain. Sayangnya dia ga ngelak.

dia: “haha, iya nih kayaknya”

gue: “kapan nih bisa saya ambil?”

dia: “kalo gitu setelah saya laundry, soalnya saya ga langganan nyuci di dalem kos”

//dasar kambing, kalo seandainya dia ga langganan nyuci sama si bibi, berarti ga mungkin dong si bibi salah masukin baju ke kamarnya? kemungkinan terburuknya, si kambing ini bener-bener niat nyolong dengan ngubek2 keranjang pakaian kotor di kos  gue.

gue: “oke kalo gitu, saya di kamar 202 ya, kamar mas nomor berapa?” (berasa lagi ngomong sama cewek panggilan)

dia: “saya di kamar xxx” (gue lupa nomer kamarnya)

Malamnya merupakan malam yang sangat mengejutkan, bukan karena baju gue langsung dikembalikan tanpa dicuci, tapi karena gue menerima SMS dari teman gue, Michael Gorbachep Manurung, yang menyatakan bahwa ia melihat ada orang yang mengenakan baju “Move Small Plastic and Trash” berwarna hitam sedang makan nasi goreng di dekat kosnya. Ciri-cirinya sama dengan si brengsek di percakapan sebelumnya. Mungkin ia ingin memakai baju itu untuk terakhir kalinya sebelum dikembalikan ke gue.

Gue terlalu polos ketika menunggu hari dimana ia akan mengetuk kamar gue, mengembalikan bajunya, dan meminta maaf atas kesalahannya. Sudah 4 hari baju gue masih belum dibalikin. Kemudian gue memberanikan diri ke kamarnya, ternyata dia bilang bajunya belum selesai dicuci. Bingung kan loe 4 hari belum selesai dicuci? Sama, gue juga.

Untuk menyingkat cerita, baju tersebut gue tagih lagi minggu depan. Untungnya waktu itu bajunya udah selesai dicuci dan pada akhirnya dibalikin ke gue. Padahal gue udah sempet ngerencanain nyolong baju dia juga kalo waktu itu masih belum dibalikin.

//

bajunya seperti ini:

courtesy of Stacey Hutapea

Courtesy of Stacey Hutapea

Sumbawa Rock City

June 2, 2010

SEKARANG kampus gue sedang libur, gue punya waktu untuk mengupdate blog gue!

Kuliah semester kemarin memang benar-benar menguras energi dan waktu. Bahkan gue dan teman-teman sempat minum Red Bull sebagai doping karena kopi tidak lagi memberikan pengaruh yang signifikan bagi tubuh kami. (walau sebenarnya efek samping Red Bull membuat adrenalin gue meningkat sehingga gue terus goyang2 di kursi [jangan, tolong jangan bayangkan Dewi Perssik, lebih baik bayangkan saja Elly Tran Ha yang ukurannya abnormal itu])

Mungkin kalian menyimpulkan bahwa gue butuh doping karena gue baru belajar saat mendekati ujian. Tidak! Gue udah belajar dari awal semester, mengikuti kelas dari dosen lain, membantu mengerjakan PR teman dari kelas lain, selingkuh sama pacar orang lain, dan lain-lain. Gue sebenernya kagum sama orang-orang yang bisa survive walaupun di hari sebelum ujian masih gue lihat sedang riang bermain ping-pong. Hari-hari dimana gue berangkat ke kampus jam 8 (pagi) dan pulang jam 9 (malam) pun terus berlangsung sampai akhirnya liburan tiba.

Saat liburan adalah saat bagi gue untuk mencari duit. Biasanya gue diminta memuaskan hasrat tante-tante kesepian yang telah lama ditinggal suaminya. Dari pekerjaan inilah gue mengenal Tante Nina. Bekerja dengan Tante Nina sangat menyenangkan karena walaupun ia telah menginjak usia paruh baya, namun ia masih tetap menarik, honornya pun lumayan. Sebenarnya sampai kalimat ini, gue mengasumsikan kalian mengerti bahwa pekerjaan barusan cuman bercanda. Sebenernya kerjaan gue waktu liburan adalah mengajar peserta olimpiade sains bidang komputer. Hal ini bisa terjadi karena sewaktu masih muda dulu, gue adalah salah satu peraih medali di olimpiade sains bidang komputer.

Yang menarik dari pengalaman mengajar kali ini adalah gue mengajar di luar pulau jawa! Gue mengajar di Sumbawa! Setelah mendapatkan informasi bahwa gue harus mengajar disana, yang pertama kali terlintas di pikiran gue adalah: “Gue selamat sampai tujuan gak ya?”.

Maka berangkatlah gue (beserta pengajar untuk mata pelajaran lainnya) dari bandung ke bandara soekarno-hatta. Kira-kira rincian kejadian di bandara adalah seperti ini:

    1. Menerima tiket pesawat, dipegang dengan tangan kiri
    2. Ngobrol2
    3. Mengambil bakpao yang dibelikan teman, dipegang dengan tangan kanan
    4. Ngobrol2 lagi
    5. Bakpaonya habis
    6. Kertas pembungkus bakpao gue remas2
    7. Meninggalkan kursi dan membuang sampahnya ke tong sampah
    8. Kembali ke kursi
    9. Ngobrol2 lagi
    10. “ANJIR, TIKET GUE MANAA??”
    11. Lari ke tong sampah
    12. Ngubek2 tong sampah
    13. Menemukan tiket
    14. Kembali ke kursi
    15. Ngobrol2 lagi
    16. Pesawatnya datang

Setelah pesawat mendarat, gue merasa senang karena gue pikir jarak ke hotelnya dekat. Ternyata masih 4 jam perjalanan dan mesti lewat laut. Jadi total perjalanan dari bandung ke sumbawa kira-kira 12 jam. Gue bener-bener capek.

Seminggu disana terasa cepat karena materi yang gue sampaikan cukup banyak. Satu-satunya hal yang membuat gue sedih saat pulang ke Bandung adalah saat memikirkan bahwa 12 jam waktu gue terbuang percuma untuk perjalanan. Damn! (tapi gajinya lumayan) ;9

//

santai aja jek kayak di pantai!

orang bodoh yang ke pantai masih pake kemeja

Orang bodoh yang ke pantai masih pake kemeja

Chat yang sebenarnya agak absurd, namun tetap gue post

December 30, 2009

Kavin says:
hai kalisa
ada nilai apa lagi ya di kampus yg ud keluar? gw masih di jakarta nih

arkaliSa says:
Hai Kavin
wah
saya belum menginjakan kaki lagi di dalam kampus sejak kelas 2 SD [??]

Kavin says:
kamu sudah dewasa ya sekarang
oom jadi ingin ketemu
[gw berperan sebagai om2 yang mesum sama keponakannya]

arkaliSa says:
tentu saja temanku
jangan gitu ah Om
saya mau mentahnya saja
(ini ga nyambung ya)

Kavin says:
iya, nanti oom kasih uang jajan..
tapi boleh ya..

arkaliSa says:
boleh kok Om
tapi saya bilang ayah dulu ya

Kavin says:
eeh jangan

arkaliSa says:
(ini polos polos geblek)

Kavin says:
eh bentar, tapi..
jangan2 ayah kamu mau ikut main sama kita
yaudah kamu tanyain dulu sana

arkaliSa says:
ayah saya lebih memilih perempuan lain, Om

Kavin says:
wah ayah yang aneh
yah mungkin selera oom dengan ayah kamu rada beda

arkaliSa says:
wanita itu bunda saya tentu saja

Kavin says:
ooh
ibu kamu itu mantan pacar oom

arkaliSa says:
oo
jangan2 om sebenarnya ayah saya

Kavin says:
bukan nak
oom selalu play safe

arkaliSa says:
berarti hubungan kita harus segera diakhiri om
sebenarnya tidak ada yang menjamin 100% safe, Om

Kavin says:
yaa kamu, masa ga tau ada cara biar 100% safe
yang mesti diluar itu looh..
[gw ngajarin ga bener]

arkaliSa says:
bener juga Om
mungkin nanti bisa saya praktekan langsung

Kavin says:
ya ya, nanti bisa oom ajarin
tapi lusa aja palingan ya
soalnya besok oom ada urusan sama tante kamu
gmn?

arkaliSa says:
jam berapa ya Om?
soalnya saya ada janji juga . . .
takut saya yang ga kuat om kalo berturut2

Kavin says:
abis makan siang gimana?
jam 1 an lah

arkaliSa says:
jam 2 aja gimana Om?
saya prefer nunggu makanan turun dulu

arkaliSa says:
(kaya mo lari keliling sabuga aja)

(Kavin is appear to be offline)
(Kavin is available)

arkaliSa says:
ah si Om kok sok sok DC

Kavin says:
haha
tadi appear offline nak

arkaliSa says:
saya kira om udah mulai bosen sama saya

Kavin says:
jadi jam 2 an ya
ketemu dimana?
di hotel yang di dago itu aja gimana?

arkaliSa says:
holiday inn mksd Om?

Kavin says:
bukan
yang deket kampus kamu
yang deket sushi boon

arkaliSa says:
kok ga elit ya Om
gini aja Om
saya kebetulan lusa ada di jakarta
kan lebih pewe lagi tuh Om
hotel2nya

Kavin says:
waduh istri oom di rumah
ooh
kamu nanti di jakarta di mananya?
nanti oom jemput deh

arkaliSa says:
saya di daerah jakarta pusat, Om
kita ketemu di tempat aja Om
nanti saya minta om yang lain nganterin
(OMG gw!)

Kavin says:
yakin nih
di mobil oom asik loh

arkaliSa says:
wah
saya sebenernya ga terlalu suka di mobil om
sempit
sama suka mabok darat jadinya
(culun banget dah)

Kavin says:
[yaampun]

arkaliSa says:
[astaga]
sudah bisakah permainan ini diakhiri?

Kavin says:
yaudah yuk..

//

catatan: semua isi chat hanyalah akting belaka antara Kavin Yudhitia dan Antonia Riani Kalisa

Kalo loe ga ketawa baca komik ini, gue bakal makan sendal jepit nenek gue.

December 30, 2009

Link komiknya:
KOMPEKDIS

//

siapa yang tertawa terakhir, ia tertawa belakangan!

Saya Kembali!

December 30, 2009

OKE gue tau, tulisan terakhir gue di post ke blog ini sekitar 13 tahun lalu. Walaupun waktu sudah berjalan lama, tapi tenang, tidak seperti yang kalian pikirkan, gue masih hidup! (gue denger-denger, sedang berkembang isu bahwa banyak yang mengira gue mati tertabrak kuda di depan ITB, itu bohong! Kuda di depan ITB tidak pernah nabrak orang kalo kuda tersebut ga ditabrak duluan!)

Sudah banyak yang berubah semenjak tulisan terakhir gue: Andre Yapto dan Yan Armand sekarang di Amerika dan sudah resmi menikah, Chrystal Monique berada di Jepang dan menikah dengan Maritzka Tedja yang kuliah di UI, Pak Wayan pun sudah menikah dengan Suster Ana dan mempunyai seorang anak, dan gue sekarang kuliah di ITB jurusan Teknik Elektro (sub-jurusan: Teknik Telekomunikasi) namun masih belum menikah. Walaupun banyak yang berubah, tapi tukang siomay deket rumah gue tetap setia menjual siomaynya, kita doakan saja semoga arwahnya tenang dan bahagia dia alamnya. [??]

Sekarang gue ingin memperkenalkan seseorang bernama Arnold Pramudita, ia adalah teman baru gue di masa kuliah PADAHAL ia sebenernya satu SMA dengan gue. Bagaimana caranya ia bisa menjadi teman baru gue padahal kami satu SMA? Misteri ini sama sulitnya dengan misteri “Yan Armand adalah kakak kelasku namun ia sekarang seangkatan denganku”, jika dikemas dalam bahasa yang menarik, misteri Arnold bisa dituliskan sebagai misteri “Indahnya malam bersama Tante Nina”. Ah maaf, itu seharusnya judul cerita dewasa tentang petualangan tante-tante berumur 40 tahunan yang masih giat menggaet pria muda. Terus kenapa kita jadi ngomongin Tante Nina? Dia bahkan hanya karakter fiktif yang gue buat barusan. Oke, oke kita kembali ke Arnold Pramudita, ia adalah seorang yang sombong sewaktu SMA karena ia ga pernah ngomong sama gue. (kalo sekarang terlihat seperti gue yang sombong, artinya kalian salah).

Dari SMA, si Arnold ini selalu mendapat 3 besar di angkatan gue karena keahliannya dalam menggaet tante-tante tajir. Bukan lah, gawat semenjak ngomongin Tante Nina tadi, gue jadi kepikiran tante-tante terus (sekali lagi: Tante Nina adalah karakter fiktif, apabila ada kesamaan nama dengan tante Anda yang kebetulan cantik dan masih muda, maka kenalin dong ke saya [ini becanda, tapi alamat e-mail gue ada kok di profile]).

Ya, jadi Arnold selalu mendapat 3 besar karena ia rajin menghapal. Ia memiliki dua buah quote terkenal yaitu : “Jadi yang mesti gue hapalin yang mana, To?” (dengan ‘To’ adalah panggilan yang merujuk ke temen gue bernama Kristanto), quote lainnya adalah : “Pokoknya, intinya, ini gue hapalin yang ini, Vin. Suka-suka loe lah mau ngomong apa” (dengan ‘Vin’ adalah panggilan ke si Kavin. Itu nama gue kalo seandainya loe belom tau).

Si Arnold ini dulu jarang bicara, namun akhir-akhir menjadi bawel dan mulai mencoba melawak yang ga lucu.

SCENE 1: LAWAKAN GSM PART 1

Ivantius: “Jelas lah si Kavin ga kenal loe waktu SMA, loe ga eksis sih”

Arnold: “dari dulu gw ga pake AXIS, Vant, gue pake XL”

Ivantius: “TEMAN-TEMAN, BARUSAN SI ARNOLD MENCOBA NGELAWAK!!”‘

Teman-teman: (berdesak ingin ngelihat)

SCENE 2: LAWAKAN GSM PART 2

Ivantius: “Ukuran baju loe apa nih? L atau XL ?”

Arnold: “XL? Wah kartu handphone gw dong”

Ivantius: “TEMAN-TEMAN, BARUSAN SI ARNOLD MENCOBA NGELAWAK!!”

Teman-teman: (berdesak ingin ngelihat)

SCENE 3: LAWAKAN POHON

(saat itu sedang ada pelajaran yang butuh pemfaktoran bilangan [contoh: 20 = 2*2*5])

Arnold: “Mar, cara loe bikin pohon faktor gimana?”

Umar: “Cara bikin pohon faktor yang diajarin di SD gue sih gini.”

Arnold: “Wah, cara bikin pohon faktor di SD gue juga gitu! Berarti SD kita sama ya!”

Umar: “TEMAN-TEMAN, BARUSAN SI ARNOLD MENCOBA NGELAWAK!!”

Teman-teman: (berdesak ingin ngelihat)

//

Selain gemar melawak, kadang-kadang ia suka komentar aneh-aneh:

SCENE 4: KEJADIAN DI RUANGAN PRAKTIKUM

Praktikum kali ini menggunakan sebuah IC (nanti gambarnya gue kasih di akhir cerita). IC tersebut disamarkan tipenya, dan tugas kami adalah menebak tipe IC tersebut dengan peralatan yang ada:

Kavin: “Eh ini apaan ya?” (waktu itu gw menunjuk kepada sesuatu yang ternyata adalah dudukan IC [itu gunanya supaya IC ga rusak waktu disolder])

Arnold: (teriak dengan nada mencemooh)”MASAA LOEE GA TAU?? INI KAN IC YANG DISEMBUNYIKAN TIPENYA ITU!! TUH LIAT KAN BOLONG!”

Asisten Praktikum: “Bukan mas, itu dudukan IC.”

Arnold: “Hah?”

Gue ga bohong kalo waktu itu seluruh ruangan ketawa-ketawa dan suasana praktikum akhirnya menjadi tidak kondusif. Tragedi Arnold ini pun tersebar sampai ke jurusan lain, bahkan sampai ke telinga mantan presiden Nigeria, Shehu Shagari (waktu itu beliau masih menjabat).

SCENE 5: BAPAK LOE BOLEH GW DORONG KE SUNGAI GA?

(semua dialog dibawah ini terjadi melalui SMS)

Kristanto: (sedang berkendara di daerah gading) “Nold, kayaknya gue liat bokap loe lagi menatap sungai tuh”

Arnold: “Iya, dia emang diminta sama kelurahan untuk bikin tanggul disana supaya ga banjir”

Kristanto: “Kalo gitu, gue ceburin bokap loe ya”

Arnold: “Jangan! Bokap gue ga bisa berenang!”

Padahal banyak jawaban lain yang lebih berguna dan bermanfaat selain “Jangan! Bokap gue ga bisa berenang!”, misalnya “Jangan! Nanti sungainya kotor”, atau “Jangan! Tagihan rumah masih 23 tahun lagi!”. Tapi ia tetap memilih jawaban pertama.

Walaupun kelihatannya ia akan tumbuh menjadi anak yang kurang berguna bagi masyarakat, tapi tetap saja ia memiliki IP (indeks prestasi) yang bagus. Dari skala tertinggi 4, ia dan Kristanto pernah mendapatkan IP 4. hebat bukan?

Oiya, tentang masalah pernikahan di paragraf ke-2 itu semuanya bohong. Mereka semua masih belom nikah kok. Kalo kawin? Saya tidak tau menahu, tanya saja kepada Tante Nina.

//

IC tuh bentuknya gini:

Dudukan IC tuh bentuknya gini:

Mereka Bilang, Saya Nyolot !

July 7, 2008

KALAU dingat-ingat lagi, ternyata dari dulu banyak orang sering menganggap gue adalah anak yang bodoh dan nyolot hanya dengan melihat penampilan luar gue. Padahal kalau lu udah kenal gue, pasti tau kok kalo gue ga nyolot (tapi sangat nyolot). Mungkin orang-orang itu tidak tau kalau sudah ada peribahasa yang menyinggung masalah ini: “Jangan menilai air dari daun talas.” Walaupun ga ada hubungannya, tapi gue merasa keren aja kalo bisa masukin peribahasa ke tulisan gue.

Pernah waktu gue kelas 1 SMA ada guru seni suara (koor) yang bernama Pak Wayan mengomentari gue di depan teman-teman waktu lagi kegiatan belajar:

P. Wayan: “Anak-anak, lihat anak ini! Heh, Kamu, berdiri!” (sambil nunjuk ke gue yang lagi asik jongkok)

/*Gue bener-bener kaget waktu dia manggil. Seingat gue hanya ada satu hal saja yang salah waktu itu, dalam hati gue: “Anjrit, masa nih guru bisa tau kalo celana dalem gue kebalik!”. Tapi untungnya dia engga ngomentarin itu*/

Anak-anak: (pada ngeliatin gue)

P. Wayan: “Kalau saya tebak dari penampilannya anak ini pasti sering telat ngumpulin tugas kan?”

P. Wayan: “Udah gitu pasti anak ini bukan tipe juara kelas kan?”

/*Secara kasarnya, dia mau bilang kalau gue kelihatan bego. Mendengar gaya ngomongnya yang sok tau tapi tenang membuat gue shock sampe-sampe cuman bisa ketawa doang. Lagian masa gue ngebales: “Engga pak, saya ga bodoh kok, kalo saya bodoh saya udah jadi guru seni suara!” bisa-bisa gue dibuang dari lantai 2.*/

Temen gue 1: “HA HA HA, dia anak olimpiade sains pak!”

Temen gue 2: “HA HA HA, kemaren dia rangking 5 di kelas..”

/*Sekarang gantian si Pak Wayan yang shock sambil memandangi gue dari atas ke bawah untuk mengecek ulang penilaiannya semula, mungkin ini pengalaman pertama dalam hidupnya ia pengen keliatan pinter tapi gagal.*/

P. Wayan: “Ah masa sih, kok ga tercermin.. Hm, kok kita jadi ngomongin ini, ayo kembali belajar sana!”

/*Padahal kalau diteliti ulang, si brengsek itu yang memulai untuk ngomongin hal lain diluar pelajaran.*/

Oke, kejadian bersama Pak Wayan memang cukup menyakitkan, tapi setidaknya Pak Wayan menilai gue setelah ia melihat sendiri penampilan gue. Waktu kelas 1 SMA juga, ada orang yang bahkan belum pernah ketemu gue bisa menggolongkan gue sebagai anak bermasalah.

Pada suatu hari yang indah karena masih hari-hari awal di SMA, gue lagi asik mencatat pelajaran ketika teman sekelas gue tiba-tiba dipanggil oleh suster (sebutan untuk biarawati) ke ruang BK (bimbingan konseling). Tentu saja gue ga peduli dengan nasib anak itu, suka-suka si suster mau melakukan apa aja ke dia (dicipok misalnya). Setengah jam kemudian anak itu kembali dengan mata merah. Ada dua kemungkinan matanya bisa merah:

  • Pertama: dia dipaksa melotot melihat suster yang lagi bugil,
  • Kedua: ia habis menangis…. setelah melotot melihat suster yang lagi bugil

Tapi saat itu gue lebih cenderung pada kemungkinan yang kedua karena hidung anak itu basah (kecuali pada saat di ruang BK ia kebetulan tertular flu dari suster ataupun dari mas-mas penderita flu yang kebetulan lewat).

Yasudah, langsung saja gue tanyakan tentang hal buruk apa yang dilakukan suster pada dia:

Gue: “Tadi di ruang BK ngapain aja?”

Dia: “Ga ngapa-ngapain kok, cuman ditanyain tentang keluarga..”

/*Aneh kan, kalo pertanyaannya cuma tentang keluarga kenapa bisa sampai nangis? Satu-satunya yang bakal bikin gue nangis adalah kalau si suster bilang: “Kavin! Sebenarnya aku adalah ayahmu!” walaupun kalimat itu kontradiktif dengan dua hal: suster itu wanita, dan SUSTER TIDAK MENIKAH! */

Gue: “Masa cuma satu pertanyaan aja?”

Dia: “Oh iya, selain itu dia juga ngomongin tentang prestasi dan asal SMP gue…”

Aha, setelah mendengar kalimatnya yang kedua, semuanya menjadi jelas. Analisis gue begini: dia berasal dari SMP jelek, nilai di sekolahnya juga jelek, dan suster ngatain yang jelek-jelek dengan muka yang dijelek-jelekin sampai anak itu menangis karena takut melihat muka suster.

Setelah istirahat selesai, tiba-tiba sesuatu yang tidak terduga terjadi: GUE DIPANGGIL KE RUANG BK!

Suster: “Kamu Kavin Yudhitia?”

Gue: “Ya”

Suster: “Silakan duduk, tunggu sebentar ya” (dia mengambil sekotak tisu dan menaruhnya di depan gue)

/*Bisakah kalian menebak maksud hati suster? Tisu itu disiapkan untuk dipakai kalau seandainya gue MENANGIS saat diinterogasi!*/

Suster: “Kamu yang dari SMP negeri itu ya?”

/*dengan penekanan dalam mengatakan ‘negeri’ seakan-akan menjadi alumni SMP negeri itu adalah sesuatu yang harus dikhawatirkan*/

Gue: “Ya”

Suster: “Bagaimana menurut kamu tingkat kesulitan pelajaran disini? Bisa ikut mengikuti engga? ….” (dan bertubi-tubi pertanyaan lain yang mencerminkan kalo dia ga yakin dengan kualitas SMP negeri)

Berdasarkan pertanyaan suster, taulah gue sekarang kenapa gue dipanggil: Guru-guru meremehkan gue karena melihat asal SMP gue, karena itu suster selaku pembimbing konseling disuruh untuk menginterogasi gue. Sejak saat itu gue tertantang untuk belajar lebih giat dan mulai berlatih pipis dalam posisi handstand (biar bisa pamer ke suster dan guru-guru).

Beberapa temen gue pun mengaku bahwa mereka mengira gue adalah anak bermasa depan gagal ketika pertama kali melihat gue. Ini ada beberapa contoh:

1. Leontius Adhika: “Pertama kali gue liat lu di klub komputer sekolah, gue pikir lo cuma sekedar mampir ke ruang komputer untuk main internet. Soalnya di dalam kelas, gue sering liat lu ketawa-ketawa sama anak-anak yang bikin ribut di kelas. Gue pikir, orang kayak lu enga mungkin ngerti komputer. Yang gue bayangkan waktu itu, lu hanyalah orang bodoh seperti pada umumnya.”

2. Julio Roland: “Pertama kali gue ngeliat lo di ekskul band sekolah, gue udah ga suka ngeliat muka lo yang nyolot. Gue pikir pasti lo pasti bukan anggota, cuma gaya-gayaan doang nongkrong di sekitar anak band. Eh, besoknya waktu ekstrakurikuler band, gue ngeliat lo lagi. Jadi gue pikir setidaknya lo adalah anggota ekskul band walaupun kelihatan nyolot.”

3. Karol Danutama: “Sewaktu gue belum kenal lu dan ngeliat lo dipilih jadi salah satu wakil untuk olimpiade komputer, gue cuma mikir satu hal: ‘Anak ini pasti kalah’. Dan yang gue tau temen-temen lain juga berpikir sama dengan gue. Untungnya lu dapet medali, kalo engga, ini bisa jadi bahan ejekan.”

4. Dennis Laurentius: “Vin, kemaren temen gue ada yang ngomentarin foto kita. Dia bilang: ‘Orang yang duduk di paling kiri keliatan nyolot’. Tanpa memeriksa foto itu lagi, gue udah tau kalo di foto itu lu duduk paling kiri.”

5. Abang tukang somay deket rumah: “Saya ga peduli kamu nyolot apa engga yang penting banyak-banyak beli somay aja deh biar kita ga slek!” [?]

/*tapi sudahlah , kucoba lupakan, ini hanya biografi kehidupan yang telah kulalui*/

Ejeklah orang sebelum kamu diejek !

June 30, 2008

BARU-BARU ini gue baru saja menemukan fakta bahwa benar-benar segala cara dapat dilakukan untuk mempererat persahabatan. Mulai dari cara konservatif model belajar kelompok sampe cara modern seperti bersahabat karena sering bersebelahan waktu lagi pipis (kisah gue sama temen gue, Jeremy). Nah gue sendiri bersama teman-teman saling pipisin saling ngatain dan juga ngejek orang lain untuk mempererat persahabatan kami. Bahkan ada 2 temen gue yang khusus ngumpul (karena beda sekolah) hanya untuk menghina orang! Kebiasaan jelek memang, tapi enak kok.

Vokalis cabutan gue, Maritzka Tedja (biasa dipanggil Cheche) juga begitu. Baru-baru ini gue chat sama dia hampir ga ada isi lain selain ejek-ejekan! Bahkan gue kenal si Cheche karena kami sama-sama hobi makan jengkol yang sudah direndam selama 3 hari dan gemar ngatain band lain yang lebih jelek (terutama yang muka personilnya kayak orang baru makan jengkol terus kecelakaan lalu lintas). Engga sih, sebenernya ini sih kegemaran gue sama Yan Armand. Gue kenal sama Cheche karena kebetulan pernah manggung di Party-nya. Kira-kira gini isi chattingan gue dan Cheche:

cheche says:

liat fs gw. voto ke 3/4. gw da pajang muka nyolot lo.

Kavin says:

bentar2 gw liat dulu

Kavin says:

JAHAHHA gw keren kan!

cheche says:

engga keren vin. itu nyolot. DAN LO SADAR DI BELAKANG LO ADA ABANG2 hahaha

Kavin says:

BOTAK LAGI ABANG2NYA!! yang paling parah dari tingkatan abang2 adalah abang2 BOTAK!!

cheche says:

HAHAHA EMG ADA TINGKATAN ABANG2 DI DUNIA INI? GEJE BGT LO AHAHHAHA

Kavin says:

ha ha ha! ntar gw bikin buku “Abang2 dan tingkatannya” deh

cheche says:

HAHAHAH jgn lupa masukin voto2 abang2 gt dr kasta tertinggi yang berambut sampe tak berambut

Tuh kan, padahal apa coba salah abang-abang itu sehingga Cheche ngatain dia (padahal gue yang mulai ngatain). Yah, kita sama-sama tau sih bahwa menjadi abang-abang memang sesuatu yang buruk, tapi abang-abang juga berperasaan seperti manusia kan? Lagipula itu bukan keinginannya sendiri untuk menjadi abang-abang! Kita sebagai manusia sebenernya harus bisa memaklumi! (gw berbicara seakan-akan abang-abang itu bukan manusia). Udah ah berhenti ngomongin abang-abang, gue jadi takut kena azab diubah jadi abang-abang! Lanjutan chat pun masih berisi saling ejek:

Kavin says:

HA HA HA!! gue jadi inget buku “100 tokoh yang membentuk jakarta”

cheche says:

buku apa itu?

Kavin says:

yah buku tentang tokoh2 yang ada di jakarta, mulai dari Anak Metal sampe orang religius

cheche says:

gw beli ah kayaknya kocak. komedi kan?

Kavin says:

iyeh

cheche says:

ahh KENAPA GW HARUS TERMAKAN REKOMENDASI DARI SEORANG KAVIN? *hahahaha gw udah mulai nyolot kayak elo*

cheche says:

bahkan gw ikutan si tosin, dikit2 ngomong T*I kalo lagi dapet musibah

Kavin says:

HA HA HA. menurut tosin, kalo sekumpulan orang sering ketemu maka sikap dan perbuatannya semakin sama

cheche says:

berarti gw terkontaminasi oleh kalian

Kavin says:

GILA, berarti teori si TOSIN terbukti lagi!

/*Tosin itu maksudnya adalah Yan Armand. Dipanggil begitu karena nama belakangnya adalah Tosin.*/

Tapi kalo soal ngatain orang memang Yan Armand yang paling pinter dan tepat sasaran. Bisa dibilang kalo gue ketularan suka ngatain orang itu karena kebanyakan main sama dia (padahal dari baru procot gue emang udah suka ngatain orang). Terkadang ga ada angin ga ada hujan dia bisa seenak perutnya yang bergelambir {dan berdaki [dan ada garis-garisnya (juga ada selulitnya)]} itu ngatain orang. Gue ambil contoh waktu gue dan Yan Armand nginep di rumah Dennis Laurentius, di tivi ada acara yang menampilkan band-band baru, terus si Yan Armand tiba-tiba teriak “Gila, mbak vokalis itu ga ada bedanya sama yg gue suka liat naek angkot di kuningan!” Gue dan Dennis ketawa-ketawa, tapi sebenernya gue kurang setuju karena muka kayak gitu lebih sering gue liat untuk mbak-mbak yang naik angkot di daerah Kp. Melayu. Kalo gue tebak, si Dennis pasti lebih cenderung mikir kalo vokalis itu mirip mbak-mbak yang naik metromini di daerah Tanah Abang. Mungkin pembantunya Dennis yang waktu itu juga ada, berpikir kalo vokalis itu mirip adiknya yang sudah lama hilang. Yaudah setelah puas ngatain akhirnya kami bertiga tidur sambil diam-diam megangin pantat satu sama lain (Engga lah, kami megang pantat sendiri-sendiri kok).

Foto abang-abang yang dimaksud:

udah gue sensor takut dia tersinggung dianggap abang-abang

/*Gue sampe ga bisa tidur karena penasaran mikirin apa yang lagi diminum abang ini. Kalo lu bisa nebak, kirim aja email ke kavinyudhitia@gmail.com nanti gue kasih hadiah yang menarik kalo jawabannya bagus*/


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.